Statistik Pengunjung

  • Pengunjung: 139955
  • Online: 1
  • Hari ini: 45

Budi Daya Gurami di Lahan Sempit Kota

BERITA – Kamis, 24 Jun 2010 13:42 WIB

Rabu Legi, 24 Mar 2010 09:29 WIB


Dengan metode baru, budi daya gurami kini bisa dilakukan di lahan-lahan sempit, seperti di pekarangan atau susut kanan-kiri rumah tinggal Anggapan bahwa budi daya gurami hanya dapat dilakukan di lahan sawah yang luas, kini tinggal mitos.

Gurami sekarang bisa dibudid.iv .ik.ni baik di desa maupun di hota sekalipun, dengan membuat kolam terpal, plastik atau bak. Dengan demikian dapat dijadikan alternatif masyarakat yang menginginkan lahan usaha produktif dengan modal kecil dan memanfaatkan lahan sekitar yang masih terbengkalai.

Oleh karena itu, Lembaga Pengkajian Agribisnis Strategis (LPAS) Yogyakarta bekerja sama dengan Perkumpulan Masyarakat Perikanan Nusantara (PerMina) akan mengadakan Diklat Budi Daya Curami di Lahan Sempit Sistem Cuba Berbasis Probiotik pada Minggu, 14 Maret 2010, di Kampung Gurami Desa JJamprang, Jam-bidan. Bantul, Yogyakarta.

Narasumber adalah Gosis Siswanto (praktisi, pemegang jaringan gurami Jawa-Kalimantan), Budi Suyoto (petani gurami, tokoh masyarakat perikanan Bantul), dan Among Kurnia Ebo (konsultan agribisnis, mentor entrepreneur untuk karyawan purnabakti BUMN Astra dan BRI).

Selain dikenalkan dengan dasar-dasar budi daya gurami secara benar, diklat di Gubug PerMina ini difokuskan pada praktik langsung di kolam, baik kolam induk, peneluran, pembibitan, dan pembesaran sehingga bisa berjalan interaktif dan aplikatif. Diklat ini terbuka untuk umum, dapat diikuti siapa saja.

Namun, karena peserta dibatasi 50 orang, peminat diklat gurami silakan mendaftar dulu ke Sekretariat PerMina di (0274) 935 7800. Berbeda dengan model diklat pada umumnya, di PerMina ini pascadiklat peserta akan didampingi terus-menerus dengan konsultasi gratis sampai berhasil.

Usman Wiwied

Jl Gurami 2, Desa Jlamprang, Jambidan, Bantul, Yogyakarta, Telepon 0274-9357800 HP 0819.0424.0208 ybaskuyahoo. com

Sumber : Media Indonesia Hal 25
Ahad Pon, 21 Mar 2010 15:26 WIB
Balai Penyidikan Dibutuhkan

Pemerintah tahun ini berencana membangun balai penyidikan penyakit ikan dan lingkungan. Hal itu untuk menekan laju penyakit ikan, yang beberapa tahun terakhir ini marak.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Syamsuddin H Amin di Jakarta, Rabu (17/3), menjelaskan, penyakit melekat pada komoditas hasil budidaya, seperti udang, ikan mas, dan nila.

Hingga kini, Kementerian Kelautan dan Perikanan belum memiliki balai penyidikan penyakit ikan, sementara Kementerian Pertanian telah memiliki delapan balai penyidik hewan ternak.

Balai penyidik penyakit ikan dan lingkungan akan dibangun di lahan seluas 6 hektar di Anyer, Banten, dengan anggaran Rp 20 miliar. Balai ini akan melakukan riset lingkungan, penanganan residu, dan sumber penyakit ikan.

Beberapa penyakit ikan yang belum terpecahkan, antara lain, adalah penyakit koi herphes virus (KHV) pada ikan mas, streptococcus pada nila, dan vibrio pada kerapu. Adapun white spot pada udang vaname telah menurunkan produksi udang nasional tahun 2009 hingga 15 persen.

”Pasar ekspor menghendaki produk yang memenuhi standar mutu, keamanan pangan, dan kejelasan asal-usul. Persyaratan itu harus dipenuhi agar produk diterima pasar,” ungkap Syamsuddin.

Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya I Made Suitha mengemukakan, upaya perlindungan keamanan pangan harus diimbangi dengan cara budidaya ikan yang baik di tingkat petambak. Selain itu, rekayasa media budidaya ikan untuk menekan laju penyakit. (LKT)

Sumber : kompas.com, 18 Maret 2010 Hal. 1